Showing posts with label catatan kaki. Show all posts
Showing posts with label catatan kaki. Show all posts

Catatan Senja

senja mulai turun dengan warna merah, burung camar bergegas ke sarang setelah memenuhi titah tuhan mencari rezeki. matahari yang merah itu, menjadi perhatian setiap yang berdiri di bibir pantai ini, menantikan detik-detik pergantian siang malam. ratusan gambar tercipta dari perekam gambar mereka. sekedar oleh-oleh untuk kenangan di hari itu...

Mendung

Sabtu 5 juni 2010, pagi yang cerah berganti dengan siang yang sangat gelap. Mendung tiba-tiba menggelayuti langit. Udara pun menjadi pengap. Seolah telah menjadi penyempurna hati yang meradang dalam kegalauan sekian lama.

Hujan tak kunjung merintik. Menjadikan penantian semakin panjang hanya untuk securah berkah kesegaran dari langit. Hari semakin redup, karena matahari tak lagi sempurna terangi bumi. Semenjak mendung yang bergulung dari langit utara, aku masih tertegun. Menunggu satu senyum yang akan menjadi bekal untuk lalui larutnya malam minggu ini.

Senja menjelang. Aku sempatkan untuk menyapa. Menyapa alam disekitarku. Gunung, lembah, sungai hingga laut. Saat angin terus mengikis peradaban manusia. Dari sisi muara menuju rumah-rumah penduduk. Dan aku masih disini, pada dermaga persinggahan sementara. Menunggu, meski tanpa kepastian atas penantian ini.

Perahu-perahu nelayan mulai bergerak menjauhi dermaga. Meninggalkan perempuan-perempuan yang menatap kosong, lurus ke depan. Hingga hilangnya perahu dari pandangan. Sementara matahari terus merayap perlahan. Meski tanpa jejak perjalanan, namun hari semakin renta menuju penghujung senja. Saat seorang ibu muda menatap lurus ke depan hingga perahu hilang dari pandangan.

Hari ini seolah tanpa gairah. Matahari menyapa tanpa sengatan yang kuat. Juga angin yang tak mampu segarkan kegerahan jiwa-jiwa manusia. [Jepara]

Aku Ingin Melanjutkan Perjalanan Ini

Rasa lelah menghantui di saat usai perjalanan. Namun akankah lelah itu menghentikan langkah kita. Ya, berhenti bukan untuk selamanya. Karena perhentian ini hanyalah sementara. Seperti singgahnya sebuah bus di terminal-terminal yang dilaluinya.

Berhentilah sejenak, lalu ukur kembali kekuatan kita untuk melanjutkan perjalanan. Tentunya perjalanan yang telah tertempuh, dapat menjadi bahan perenungan. Berapa bayak bahan bakar yang diperlukan untuk satu perjalanan. Juga berapa banyak perkiraan bahan bakar yang akan diperlukan untuk perjalanan yang akan dilakukan. Sambil memeriksa ban, air radiator, bahkan mesin pun juga harus diganti oli, agar perjalanan selanjutnya akan lebih baik dari yang sebelumnya.
Ya, aku kini seperti sebuah bus yang sedang singgah di sebuah terminal. Mendinginkan mesin, sambil menanti penumpang yang akan ikut dalam perjalanan yang segera tertempuh. Selain menunggu teman yang akan menemani perjalanan berikutnya, bekal juga harus disiapkan untuk cadangan, kalau-kalau dibutuhkan.
Dari perjalanan yang telah terlewati, mungkin hampir separuh dari rute jarak yang telah ditetapkan. Dan selama itu pula, belum aku temukan teman perjalanan yang tepat, dan akan menemani perjalanan hingga akhir tujuan hidup ini.
Namun aku yakin, pasti akan ada satu yang menemani perjalanan ini. Entah kapan akan menyapa, dan di mana akan mulai menemaniku. Semoga setelah ini, segera aku menjumpainya, untuk menemani perjalananku. Karena aku sudah semakin lelah untuk berjalan sendiri. Aku butuh teman untuk berbagi selama di perjalanan. Aku butuh teman yang mengingatkan kalau-kalau aku salah dalam menentukan arah. Atau bahkan peta yang selama ini aku gunakan ternyata telah usang, dan harus segera diganti. Maka aku butuh teman yang bias membantu membaca peta, sekaligus menjadi navigator selama perjalanan ini.

Aku lelah berjalan sendiri,
tapi aku ingin melanjutkan perjalanan ini.
Aku ingin melanjutkan perjalanan
bersama orang yang tepat
dan di saat yang tepat.

Semoga perjalanan selanjutnya semakin indah dan penuh berkah.

Jepara, akhir januari ‘09