Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Terpaku Mengeja Peluh













Menatap nganga kosong dan jerit bintang-bintang bertabur cahaya di langit kelam
Rembulan bercahaya pucat
Menitik peluh di kening
Ada beban pikir menganjal
Hancurkan sikomotorik sistem
Wadah terkapar temperatur jalang
Mabuk tanpa meneguk arak
Tahu-tahu ku sudah berada dianjunganku

1 Juli 2013

* sebuah cacatan pesan singkat dari seorang teman.


Hujan Yang Manis

cuma beberapa tetes saja
langit menangis,

dan …

belum menjadi gerimis

dan …

apalagi hujan yang manis,

padahal mata air cinta dan imanku
sudah hampir mengering

dan habis

terkikis


=========
* Sebuah pesan dari teman, 6 bulan yang lalu tepat saat perjalanan ditemani hujan yang mengguyur deras. Terima kasih kawan, semoga inspirasi terus mengalir seperti mata air cinta-mu kepada-Nya.

Berjalan Sendiri

rinai yang tercurah
tak lagi semerdu nyanyian senja
karena rintiknya kini
telah menjelma menjadi badai
membekukan setiap nafas
yang kini tak mampu hangatkan jiwa
aku ingin cinta tuk hangatkan perjalanan ini…

jepara, 9 januari ‘09

---------
catatan saat perjalanan ditemani guyuran hujan,
sepi dan kedinginan,,

Aku Ingin Peduli

aku tak tau harus bicara apa
aku tak tau, apakah dengan bicara akan menghapus luka
meskipun aku tau apa yang kau alami dan kau rasakan
tapi aku tak bisa bersikap lebih
aku hanya melihat, mungkin hanya tersenyum
saat bertatap mata
karena mungin aku hanya bisa diam
tapi aku mengerti
dan mencoba untuk peduli

jepara, 17 desember '08

Kejutan Hidup

suara adzan baru saja usai menggema di belantara
tapi langit tak seindah biasanya
mendung masih merata hingga batas cakrawala
saat ku hentikan langkah dan kunikmati senja ini
dengan segerombolan walet yang masih melayang kembali pulang
juga kelelawar yang mulai keluar sarang
rindu ini kembali menggelegak dalam dada
mengingat langkah-langkah yang tlah lalu
dan berharap pada masa depan
dengan hidup yang penuh keterkejutan
tak jarang tersentak dengan hidup sendiri
hingga terpana pada apa yang terjadi

Jepara, 12 November ‘08

Orang-Orang Malam

Inikah kehidupan orang-orang malam
Ada penjaga warung kopi yang kelilingi pembeli yang menghabiskan waktu sepanjang malam.
Ada orang yang sengaja sekedar mencari teman bicara untuk melewati malam dengan secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek yang terus dihisapnya batang demi batang.
Ada juga orang yang baru pulang dari tempat kerja. Entah karena lembur, atau memang waktu kerja malam hari.
Waktu terus bergulir, detik demi detik silih berganti seiring temurunnya embun malam yang basahi rerumputan.
Ada satu orang yang hanya berdiam sembari menghisap sebatang rokok. Entah apa sebenarnya yang ditunggunya. Menunggu purnama? Ah, aku rasa tidak. Karena bulan baru separuh memancarkan sinar lembutnya. Bahkan sekarang dia mulai bersembunyi di balik awan.
Di sela lalu-lalang kendaraan yang sesekali melintas, masih ada sepasang suami istri yang menghabiskan malam ini dengan saling berbicara di bawah cemara taman kota.
Inikah kehidupan orang-orang malam di pusat kota. Hingga masih ada sebagian anak-anak yang bermain sepak bola di tengah lapangan alun-alun kota.
Ya, inilah kehidupan orang-orang malam
Di pusat kota, saat langit kelam, bintang malam tenggelam di balik awan, jga rembulan menjelang purnama yang masih setia menerangi malam suram kelam.

Taman alun-alun kota
Menjelang tengah malam

Sepucuk Surat Matahari Terbit

ini adalah sepucuk surat surat
yang kutulis dan kukirimkan kepadamu
saat tak ada kata sapa
saat hari-hari terasa hampa
saat galau hati tak ada tempat berbagi
saat hati gelisah
tanpa ada tempat meruah

ini adalah sepucuk surat
yang kutulis dan kukirimkan kepadamu
ketika hari beranjak terang
dan tanpa peduli apakah kau kan
menyapa atau tetap diam
di tiap perjumpaan
ketika matahari terbit di fajar ini

Jepara, 5 juli 2006