Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Ingin Kusempurnakan Imanku

"Bagaimana Nore?" Itulah satu pertanyaan yang terus terngiang dalam telinga Nore Jane. Pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang Gus. Pertanyaan dari Gus Muham yang mengajaknya menikah. Dan karena pertanyaan tersebut Nore Jane berhari-hari tak dapat tidur dengan nyenyak.

Memang, Gus Muh adalah anak dari seorang ulama yang cukup ternama di negaranya. Namun dia termasuk satu anak yang berbeda di antara saudara-saudaranya yang lain. Gus Muh tak mau ikut dalam tradisi Islam yang selama ini dianut keluarganya. Meski bukan berarti dia menolak Islam secara keseluruhan. Dia lebih cenderung mengikuti budaya-budaya barat yang glamour.

Dalam hal pendidikan misalnya, Gus Muh tak mau masuk ke pendidikan keagamaan. Dia memilih pendidikan umum dan politik yang diselenggarakan oleh pemerintah atau bahkan oleh swasta yang beraliran liberal. Sedangkan semua saudaranya menjalani pendidikan di sekolah ataupun kampus yang beradat budaya ketimuran dengan ilmu-ilmu keislaman yang cukup kental. Sehingga dengan sendirinya budaya yang diserap olehnya adalah budaya-budaya barat yang liberal pula. Dan pada akhirnya Gus Muh memutuskan untuk menjadi seorang politikus ketimbang menjadi seorang ulama seperti jejak keluarganya.

Suatu saat Gus Muh bertemu dengan seorang perempuan yang sontak menggetarkan jiwanya. Karena kesibukannya dalam dunia politik, Gus Muh tak sempat memikirkan untuk menikah dan menggenapi separuh agamanya yang mungkin hampir luntur. Ketika itu Gus Muh sedang berjalan-jalan untuk melihat perkembangan pembangunan di kotanya. Selain sebagai kepala pemerintahan dia juga termasuk orang yang mengagumi keindahan kotanya. Sebuah kota yang terletak di lereng pegunungan asri yang sejuk dan dengan tingkat pembangunan cukup maju. Banyak sekali gedung-gedung dibangun guna mendukung kemajuan kota.

Ketika perjalanan Gus Muh sampai di depan sebuah pasar kota, Gus Muh tak bisa menyembunyikan ketertarikannya dengan seorang perempuan yang baru pertama kalinya dia lihat itu. Meski pada awalnya tak mengetahui namanya, namun bagi seorang kepala pemerintahan bukan hal yang sulit untuk sekedar tahu nama dari warganya. Dengan bantuan pejabat bawahannnya dia mendapati bahwa nama perempuan yang menggetarkan jiwanya itu bernama Nore Jane. Dan pada hari-hari berikutnya Gus Muh menjadi sering meluangkan waktu untuk berjalan-jalan dan lewat pasar kota itu.

Nore Jane termasuk seorang muslimah yang cukup jelita. Bahkan bisa disejajarkan dengan model-model ternama di negaranya. Dengan paras wajahnya yang oval, hidungnya yang mancung juga sinar mata yang tajam memberikan pesona tersendiri saat beradu pandang yang pertama kalinya dengan Gus Muh.

Waktu itu Nore Jane baru pulang dari pasar kota. Tempat di mana dia membanting tulang untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.

"Assalamu'alikum…." Gus Muh mencoba menyapa saat berpapasan dengan Nore Jane ketika itu. Dan dengan tatapan penuh penasaran, Nore Jane hanya memandang sesosok yang cukup dikenalnya sebagai kepala pemerintahan dan kini berhadapan dengannya. Pada akhirnya pun dia membalas salam yang baru saja didengarnya.

"Wa'alaikumsalam warahmatullah…." Dengan menundukkan kepalanya dia ucapkan dengan kelembutan suara yang dimilikinya.

Dan setelah pertemuannya dengan Gus Muh itu, entah mengapa pertemuan demi pertemuan terus saja berlanjut dengan Gus Muh. Dari pertemuan yang tidak disengaja, hingga pertemuan yang terkesan direncanakan oleh Gus Muh. Seiring dengan intensitas pertemuan itu, Gus Muh mulai tertarik dengan perempuan yang begitu memikat hatinya. Bahkan dia sendiri tak menyadari dengan siapa dia sedang kasmaran. Gus Muh tak menyadari bahwa perempuan yang memikat hatinya adalah seorang perempuan yang salah.

Sampai akhirnya Gus Muh tak mampu lagi menahan gejolak perasaannya itu. Dalam suatu kesempatan dengan segala keberaniannya Gus Muh mengungkapkan isi hatinya kepada Nore Jane. Tidak tanggung-tanggung karena Gus Muh langsung mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Nore. Dan dengan begitu terkejutnya Nore Jane mendengar pengakuan laki-laki yang tak tau diri ini. Terlebih lagi Nore mengetahui bahwa Gus Muh adalah seorang kepala pemerintahan yang juga anak dari seorang ulama besar di kotanya.

Sejak awal Nore sudah mencium gelagat yang tidak baik dari perkenalannya dengan Gus Muh. Namun apa boleh dikata, aktivitas Nore yang berdagang di pasar menjadikan tak bisa menghindari pertemuan demi pertemuan dengan Gus Muh terus terjadi. Hingga akhirnya satu hal yang paling tidak diinginkannya itu terjadi.

Bagi Nore Jane hal ini merupakan sebuah penghinaan yang sangat luar biasa. Kenapa Nore merasa dihinakan, tidak lain karena Nore merasa dia telah gagal dalam menjaga kehormatan dirinya. Terlebih lagi dia gagal menjaga kehormatan keluarganya. Bukan apa-apa, namun saat itu Nore Jane adalah masih menjadi seorang isteri. Ya, meskipun suaminya hanyalah seorang yang tak berdaya untuk melakukan apa-apa. Tetapi Nore Jane termasuk istri yang taat kepada suaminya. Sehingga dalam keadaan apapun suaminya dia tetap mengabdikan diri kepada suaminya.

Nore Jane adalah istri yang cukup setia dari seorang laki-laki yang tak lagi berdaya melakukan apa-apa. Semenjak kecelakaan yang menimpa suaminya, dengan sendirinya Nore menjadi tulang punggung keluarganya. Mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Meskipun dia hidup hanya dengan seorang suaminya seorang. Namun dengan bekal ilmu agama yang telah ditanamkan oleh keluarganya, menjadikan Nore seorang muslimah yang tangguh dalam menghadapi segala ujian. Tidak sedikitpun dia mengeluh dengan apa yang dijalaninya.

Suatu hari sepulang dari pasar, Gus Muh telah menunggunya di jalan depan pasar. Gus Muh bermaksud untuk menanyakan tawarannya kepada Nore Jane tempo hari. Maka dengan segenap kegundahan hatinya Nore Jane mempersilahkan Gus Muh untuk singgah di gubugnya yang sederhana.

Sesampainya di rumah, Nore Jane mempersilahkan Gus Muh masuk dan duduk di ruang tamu yang tak dapat dikatakan lega. Setelah Nore Jane masuk untuk meletakkan segala perlengkapan untuk berdagangnya, dia kembali keluar dengan mendorong seorang laki-laki yang tampak tua dan lemah dengan kursi roda. Guna menjawab rasa penasaranya Gus Muh menanyakan siapa laki-laki yang di kursi roda itu. Dan dengan penuh kesabaran dan ketabahan Nore Jane memperkenalkan suaminya kepada Gus Muh.

"Perkenalkan ini suami saya Tuan, namanya Ibnu Syairozi." Dan dengan keterkejutan yang tak pernah diduganya, sehingga hal itu merubah raut wajah Gus Muh. Setelah kiranya cukup memperkenalkan suaminya kepada Gus Muh, Nore kembali mendorong suaminya ke dalam.

Beberapa saat kemudian Nore Jane kembali ke ruang tamu, Gus Muh kembali memulai percakapan di antara mereka. "Nore, kamu masih muda cantik pula, apa kau tidak malu dengan bersuamikan seorang yang telah tua dan lemah tak berdaya seperti itu? Maaf kalau hal ini menyinggung perasaanmu." Meskipun perlahan suara Gus Muh bagaikan petir dan guntur di siang bolong terdengar di telingan Nore Jane. Sebuah pertanyaan yang juga tak disangka, setelah beberapa hari yang lalu menawarkan sebuah ajakan untuk menikah dengannya. Sehingga sontak membuat Nore Jane memandang Gus Muh dengan penuh penasaran.

"Maksud Tuan ?" Nore Jane balik bertanya kepada Gus Muh yang menurutnya keterlaluan.

"Sekali lagi maaf jika apa yang aku katakan menyinggung perasaanmu. Namun dengan seorang suami yang terlihat tua dan lemah tak berdaya itu, apa engkau tidak malu ? Apa tidak lebih baik jika engkau memohon cerai dengan suamimu dan menikah lagi dengan laki-laki yang lebih baik dari dia ?" Kembali lagi kalimat demi kalimat Gus Muh memporakporandakan emosi Nore Jane. Bahkan kini ada nafsu dalam dirinya yang mendorong untuk melampiaskan kemarahan besar terhadap keturunan ulama besar yang tak tau diri ini. Dengan deru nafas yang semakin berat dan suara yang terbata karena emosi, Nore Jane memberanikan diri untuk bicara.

"Maaf Tuan, apakah menurut Tuan apa yang saya lakukan selama ini tidak baik ? Atau apakah menurut Tuan yang saya lakukan selama ini salah ? Lantas apa maksud Tuan dengan tidak mencabut permintaan Anda terhadap kesediaan saya untuk menikah dengan Tuan ? Apakah Tuan meminta saya untuk bercerai dengan suami saya, lantas mau menikah dengan Tuan itu sebagai sesuatu yang biak ?" Bertubi-tubi kalimat pertanyaan yang ditujukan kembali kepada Gus Muh meluncur dengan tanpa beban dari Nore Jane. Memang dengan kemampuan ilmu agama yang dimilikinya, Nore Jane sedikit menggetarkan pertahanan Gus Muh.

"Malu, malu kata Tuan? Malu dengan apa? Kenapa saya harus malu dengan memiliki suami yang saya sayangi dan cintai? Ingat Tuan, saya ini muslimah. Saya adalah seorang yang beriman." Kini kalimat-kalimat Nore Jane terdengar lebih santun. Karena dia telah mampu menguasai emosinya, sehingga dia tidak lagi dikuasai nafsu amarahnya. Dia terus melanjutkan pembicaraannya.

"Maaf Tuan, saya ini seseorang yang beriman Tuan. Saya ingin melengkapi keimanan saya dengan dua hal. Karena keimanan yang saya pegang ini terdiri dari dua hal itu. Yang pertama adalah syukur. Saya ingin melengkapi keimanan saya dengan bersyukur kepada Allah atas kecantikan yang dikaruniakan kepada saya ini. Karena tidak setiap wanita diberikan anugerah seperti saya. Dan mudah-mudahan dengan ibadah yang saya lakukan selama ini saya mampu membuktikan rasa syukur saya itu."

Gus Muh tak dapat mengungkapkan apa-apa lagi. Karena selama ini tak pernah mempelajari ilmu agama sejauh itu. Selama ini dia hanya mengetahui apa itu politik, apa itu pemerintahan. Karenanya ketika Nore Jane bertutur sedemikian gamblangnya dia tak sanggup untuk menyelanya. Bahkan desah nafasnya pun tak mampu menyela kata-kata Nore Jane.

"Tuan, saya benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Tuan. Sebagai kepala pemerintahan yang juga anak dari seorang ulama besar di kota ini, semestinya Tuan yang malu dengan kelakuan Tuan ini. Kenapa saya harus merasa malu dengan bersuiamikan seorang yang tak berdaya apa-apa ? Kenapa ?" Nore Jane kembali terbawa emosinya. Namun kini dia malah menitikkan air mata.

"Setelah saya bersyukur kepada Allah atas kecantikan yang dikaruniakan kepada saya, saya ingin melengkapi keimanan saya dengan satu hal lagi. Satu hal itu adalah kesabaran. Saya ingin melengkapi keimanan saya dengan kesabaran itu. Bersabar dalam menjalani kehidupan dengan memiliki suami seperti yang Tuan lihat. Kenapa saya harus malu dengan apa yang diberikan Allah kepada saya. Semestinya Tuan yang merasa malu, malu karena telah berusaha merusak keluarga orang lain. Kenapa tuan tidak malu karena telah meminta saya untuk bercerai dengan suami saya dan menerima ajakan menikah dengan anda? Apakah hal itu tidak membuat tuan lebih malu ketimbang saya?" Kata-kata Nore Jane benar-benar membuat Gus Muh tek dapat berkutik. Terlebih lagi dia tidak dibekali kemampuan ilmu agama yang cukup.

Akhirnya dengan tanpa membantah apa yang disampaikan oleh Nore Jane, Gus Muh mohon permisi kepada Nore Jane. Dengan muka yang hampir-hampir terlipat karena malu yang tak dapat disembunyikannya, Gus Muh pamit dan minta diri. Sambil mengucapkan beribu maaf yang tak dapat diverbalkan, Gus Muh mengucapkan salam. "Maaf jika apa yang saya lakukan telah melukai hati Nyonya. Assalamu'alaikum…." Gus Muh melangkah keluar.

"Wa'alikumsalam warahmatullah…" jawab Nore Jane singkat dan tetap diam ditempatnya semula. Setelah Gus Muham keluar rumah, kemudian Nore Jane bangkit dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Setelah itu dia kembali menemui suami tercintanya. Dia menangis dipangkuan suaminya dan dengan terbata-bata dia memohon maaf kepada suaminya atas apa yang telah menimpa keluarganya. Nore Jane benar-benar merasa telah gagal dalam menjaga kehormatan dirinya. Nore Jane merasa gagal dalam menjaga kehormatan keluarganya.


Kudus, 11 Agustus '08

Lima Ratus Perak Buat Opal

Setiap kali melakukan perjalanan selalu ada banyak kejadian yang aku alami. Dari kabar-kabar ringan, gosip bahkan sampai berita-berita politik yang masih hangat dibicarakan. Tak hanya itu, komentarpun meluncur dari orang-orang yang aku temui. Lalu lalang pedagang asongan pun turut menghiasi lorong-lorong bus setiap kali berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, baik di terminal maupun di halte-halte yang ada. Para pengamen turut juga berkompetisi dalam mencari rizqi-Nya.

Siang yang cukup menyengat. Bahkan kami yang ada dalam bus AC antar kota dalam propinsi masih tetap berkeringat. Terdengar riuh percakapan orang-orang yang ada di dalam bus. Ada yang berbincang dengan orang yang ada di sebelahnya, tak peduli apakah mereka saling kenal atau bahkan tak pernah bertemu sebelumnya. Ada juga yang bergumam karena bus tak segera melanjutkan perjalanan, sedangkan cuaca benar-benar tak bersahabat. Ya, cuaca benar-benar tak bersahabat. Aku sendiri merasakan peluh yang berleleran di punggung dan dada, hingga kemeja yang kukenakan pun basah olehnya.

Kali ini kembali seorang pedagang asongan membagikan jajanan kepada setiap penumpang yang ada dalam bus. Bukan membagikan dengan cuma-cuma. Karena dia juga memberitahukan bahwa bagi yang berminat cukup membayar dengan seribu rupiah saja. Ada banyak cara yang dilakukan oleh pedagang asongan dalam menawarkan dagangannya. Dan itulah salah satu cara yang ditempuh. Tak hanya itu, karena ada juga pedagang yang menjajakan buku-buku kecil. Kamus ringkas bahasa inggris untuk sekolah dasar, juga buku-buku kumpulan aneka resep masakan.

Aku sendiri sedikit heran dengan bus yang aku tumpangi ini. Entah kenapa tak juga melanjutkan perjalanan. Padahal mungkin hampir dua puluh menit bus berhenti pada halte ini. Seiring dengan keherananku dan mulai hilangnya kesabaran yang memang tersisa tinggal sedikit, muncul seorang anak laki-laki dari pintu depan bus.

Dengan menenteng sebuah gitar kecil bersenar tiga, dia masuk dan berdiri di depan penumpang yang duduk di bangku paling depan. Seperti biasa, sedikit basa-basi sebagai kata permisi yang tak terdengar olehku, kemudian mulai memainkan gitarnya. Irama yang dimainkan tak sepenuhnya aku kenal. Entah lagu apa yang sedang dimainkannya. Karena irama yang dihasilkannya pun jelas-jelas sumbang. Karena gitarnya yang senarnya hanya berjumlah tiga, belum tentu juga melodinya diatur dengan baik. Namun meski tanpa kudengar suaranya yang menyanyikan sebuah lagu, lama-kelamaan akhirnya kutemukan juga lagu apa yang sedang di lagukan. Ya, sebuah lagu beraliran campursari berjudul Cucak Rowo, begitu lirih aku dengar. Sebuah lagu yang berisi sindiran kepada orang-orang tua yang menikah dengan anak gadis.

Aku tak peduli dengan lagu apa yang dinyanyikan bocah tersebut. Namun justru yang menarik perhatianku adalah, kenapa bocah ini tak terdengar suaranya olehku. Kenapa juga dia tidak sekolah? Mungkin dia benar-benar merasa haus sekali ketika sedang mengamen dalam bus yang aku ini. Atau mungkin malah dia belum sarapan sejak pagi? Itulah sebuah pertanyaan yang tak kutemukan jawabnya. Dan andai saja dijawab, mungkin, itu salah satu alternatifnya. Namun untuk pertanyaan kenapa dia tidak sekolah? Sedangkan sekarang adalah jam sekolah. Kembali satu tanya yang tak boleh sembarangan untuk memberikan alternatif jawabannya.

Anganku mulai lagi bersenyawa dengan gagasan-gagasan yang sudah pernah tergali dalam diskusi kajian dan belum sempat tertuang ke dalam catatan-catatan. Karena semua yang kualami pagi ini berkait dengan isu sentral yang akan diangkat dalam kajian dan advokasi pada kehidupan anak jalanan. Itulah program yang baru saja digagas dalam rapat koordinasi sebuah lembaga kemahasiswaan yang aku ikuti. Isu yang sangat menarik dan diharapkan akan memberikan kontribusi pada upaya advokasi dan pendampingan anak jalanan.

Begitu asyiknya aku berangan tentang apa yang akan aku tuangkan pada laporanku nanti, sampai-sampai aku tak menyadari ketika anak tersebut meminta uang kepadaku. Tak seperti pengamen-pengamen lain, yang meminta uang dengan sedikit paksaan kepada penumpang yang enggan memberikan uang. Anak itu malah seolah tak berusaha meminta kepada penumpang yang memang tak ingin memberikan uang kepadanya. Dan begitu aku sadar dia sudah tidak ada di depan. Dia telah melewati barisan tempat dudukku. Kulongokkan pandanganku ke belakang, dia telah lewat beberapa baris di belakangku. Terus ku amati, dan entah kenapa tak banyak orang yang memberikan uang receh kepadanya. Begitu dia selesai mengajukan telapak tangannya pada barisan paling belakang, dia segera turun dari bus yang aku tumpangi.

Benar-benar tak habis pikir dengan apa yang baru saja ku lihat. Betapa kecilnya kepedulian orang zaman sekarang. Dengan melihat kesenjangan sosial di hadapannya saja mereka enggan untuk memberikan sesuatu kepada yang berhak. Ah sudahlah, mungkin memang baru itu rizqi untuknya. Tak selang berapa lama akhirnya bus melanjutkan perjalannya. Lalu lintas yang semakin padat, terus diterobos tanpa toleransi kepada kendraaan-kendaraan kecil seperti sepeda motor, bahkan becak dan sepeda ontel. Supir bus terus mengendari dan melajukan bus dengan sedikit tergesa. Entah apa yang hendak dikejarnya.

***

Hari telah berganti, namun rutinitas yang aku jalani masih tetap sama dengan hari-hari sebelumnya. Yaitu menjalani perjalanan untuk sampai ke tempat kuliah. Meski aku sudah kuliah, tapi aku harus tetap pulang ke rumah. Tak diijinkan aku untuk mengambil kos di dekat kampus. Itulah keputusan bapakku. Dan aku tak mungkin membantahnya. Kali ini perjalananku sedikit berbeda. Bukan karena aku memakai sepeda motor atau mungkin mobil, karena itu jelas tidak mungkin. Tapi hanya karena bus yang aku tumpangi sedikit berbeda dengan bus yang aku tumpangi kemarin.

Memang armada bus yang sekarang berbeda dengan armada bus yang kemarin. Dan ini lebih dibuktikan dengan perjalanan yang lebih cepat. Meski tetap saja selalu berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, setiap kali sampai di terminal atau halte pemberhentian bus. Dan lalu lalang pedagang asongan juga para pengamen masih menghiasi setiap perjalanan bus antar kota dalam propinsi yang melintas. Meski bagaimanapun juga akhirnya perjalanan terasa lebih cepat.

Pada kesempatan ini entah kenapa aku ingin sekali membaca berita-berita yang ada di koran. Dan akhirnya aku putuskan untuk membeli sebuah koran harian lokal yang terbit di wilayah kampusku berada. Kususuri setiap jengkal halaman dengan membaca secara singkat berita-berita yanga ada. Mulai dari haedline yang berisi berita politik seputar pilkada dan segala sesuatu yang turut meramaikannya, sampai berita-berita ringan yang disajikan koran tersebut.

Namun baru sampai pada halaman kedua, disuguhkan sebuah berita yang cukup menarik perhatianku. Tak biasanya aku tertarik untuk membaca berita kriminal. Dan kali ini aku benar-benar ingin membaca sebuah berita dengan judul Seorang Bocah Ditemukan Tak Bernyawa di Belakang Kios Terminal. Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutanku kali ini. Karena begitu aku mencermati foto yang ada dalam koran tersebut, ternyata korban yang ditemukan tersebut adalah bocah yang mengamen dalam bus yang aku tumpangi kemarin.

Terus kususuri kata demi kata yang ada dalam berita itu. Akhirnya kutemukan juga apa penyebab kejadian tersebut. Dalam berita disampaikan bahwa bocah yang diketahui bernama Nouval yang sering dipanggil Opal, dan berusia sebelas tahun itu, meninggal karena kekerasan yang dilakukan oleh seorang preman yang berkuasa di terminal kota tersebut. Belakangan diketahui bahwa setiap anak jalanan yang mengasong dan mengamen harus menyetor sejumlah uang kepada preman tersebut setiap hari. Dan pada hari nahas itu Opal tak bisa memenuhi permintaan kepala preman tersebut. Tak lain adalah karena pada waktu itu Opal tak banyak mengumpulkan uang. Bahkan untuk makan sehari saja tak cukup. Akhirnya dia dihajar oleh preman terminal yang terkenal sadis itu.

Benar-benar yang tak bisa aku terima dengan akal sehatku. Karena rasanya baru saja aku bertemu dengannya dan mendengarkan genjrengan gitarnya yang terdengar sumbang. Dan semua itu adalah kejadian kemarin. Kemarin ketika Nouval atau Opal mengamen dalam bus yang aku tumpangi dan aku tak memberikannya uang. Kemarin ketika aku berangan tentang kenapa dia tidak sekolah, tentang kenapa suaranya begitu lirih dan tak terdengar.

Itulah kejadian kemarin yang tak mungkin akan kembali lagi. Andaikan saja kemarin aku turut memberikan uang kepadanya, lima ratus perak saja, mungkin saja ceritanya akan berbeda dengan apa yang aku herankan sekarang. Atau andaikan saja kemarin aku memberikan minuman bekalku yang selalu kubawa dalam tasku, mungkin dia akan mengamen dengan suara lebih keras dan mungkin juga, akan memperoleh uang lebih banyak lagi. Andaikan saja. Andaikan saja semua itu aku lakukan kemarin. Tapi semuanya sudah berlalu. Opal pun sudah tiada, meninggal dalam upaya mempertahankan hidupnya. Opal yang hidupnya lebih mulia dibandingkan dengan pejabat yang suka memakan yang bukan haknya. Opal yang lebih mulia dari pemimpin yang lupa dengan rakyatnya.

Kututup koran yang ada di tanganku, aku kembali mengevaluasi diri sendiri. Betapa diri ini masih begitu sombong dengan keadaan di sekitarku. Aku yang masih begitu angkuh dengan kenyataan sosial yang benar-benar ada di hadapanku. Aku yang begitu angkuh dengan tak memberikan sedikit uang untuk anak yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Dan dari sana membangkitkan semangat dalam diri sendiri untuk tidak lagi sombong dengan orang yang di bawah kita. semangat untuk merubah diri agar tidak lagi angkuh dengan orang-orang yang secara sosial dan ekonomi tak seberuntung seperti kita.

Dengan memejamkan mata seraya berdoa untuk Opal alias Nouval yang semoga syahid dalam mempertahankan hidupnya. Yang dengan semangatnya ada seberkas cita-cita untuk masa depan dan kehidupan yang lebih baik.

***

Kudus, 20 Juni 2008

Kerinduan Pada Senja

Dengan sisa-sisa daya yang tak seberapa lagi, Roy menjatuhkan badannya di sofa yang berada di teras samping rumahnya. Dari raut wajahnya tampak ada berjuta masalah yang dibawanya pulang dari kantor tempat dia bekerja. Wajah itu tak seceria hari-hari biasanya. Kini Roy mencoba memejamklan matanya untuk sekedar meringankan beban itu. Namun begitu ia membuka mata, masalah-masalah itu kembali menggelayuti pikirannya.

Ada gumpalan mega-mega putih berarak menghiasi langit di sebelah timur. Angin berdesir menyapu wajah Roy dan menyibakkan rambutnya yang tergerai ke dahinya. Ternyata hembusan lembut angin itu cukup memberikan spirit yang memenuhi jiwanya.

Kembali ada kekuatan dalam dirinya. Meski rasa itu tlah dilupakannya sejak lama, Roy tetap tak bisa mengacuhkan kejadian yang dialaminya kemarin lusa. Ya, ketika Dewi kembali menghubunginya. Meski hanya melalui sebuah pesan pendek dari telepon selularnya. Tapi hal itu cukup menyita perhatian Roy dalam dua hari terakhir ini. Dewi kembali menghubunginya karena Dewi ingin kembali padanya. Dia ingin kembali merajut hubungan yang dulu pernah ada.

Dewi adalah kekasihnya ketika mereka masih sama-sama menjadi mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi favorit di kotanya. Mereka telah cukup lama menjalani hubungan asmara tersebut. Tepatnya ketika mereka menjadi mahasiswa baru pada perguruan tinggi itu, yaitu ketika mereka masih sama-sama menjalani ospek di kampus tersebut.

Meski mereka sudah sama-sama menjalani hidup bersama selama menjadi mahasiswa. Mereka juga telah membuat kesepakatan untuk menjalani hidup bersama setelah mereka menyelesaikan studinya. Itu adalah sebuah impian yang akan menjadikan hidup mereka bahagia. Bahagia untuk menjalani hidup hingga hari tua mereka. Roy juga berjanji untuk segera melamar Dewi setelah mereka sama-sama menyelesaikan kuliahnya.

Namun begitu mereka lulus kuliah, harapan itu pupus sudah. Impian itu tinggallah bayangan yang menghantuinya seperti ketika mereka bangun kesiangan dengan mimpi buruk yang belum selesai. Tak tau kemana mereka mesti mewujudkan impian mereka. Karena setelah lulus kuliah Dewi langsung dijodohkan dengan anak dari rekan kerja ayahnya. Meskipun Dewi telah berusha menolak keinginan ayahnya, namun hal itu tidak dapat merubah kehendak ayahnya. Bahkan ibunya pun tak bisa merubah keinginan dan keputusan ayah Dewi.

Semenjak pernikahan Dewi itulah, Roy mencoba untuk melupakan masa-masa indah bersama Dewi. Dia tak ingin bayang-bayang Dewi akan selalu menghantui kehidupannya kelak. Karena dia juga tidak menghendaki kalau nantinya Dewi tak bahagia bersama suaminya hanya karena selalu ingat dengan dirinya. Jangan sampai kehidupan rumah tangga Dewi menjadi rusak karena dirinya. Roy ingin memulai satu kehidupan yang baru. Dia ingin kembali membangun mimpi yang baru. Dia ingin kembali bermimpi tentang satu kehidupan yang lebih baik.

Langit telah berubah lembayung ketika Roy tersadar dari lamunannya. Gelap juga semakin menyisir langit bagian timur laut yang semula berwana jingga keemasan. Untungnya ada rembulan yang hampir purnama muncul dari arah timur. Meski tersangkut pada ranting cemara yang kering, namun cahayanya tetap cerah menerangi malam, juga hati Roy.

Pada hari sebagaimana yang disepakati Roy akan menemui Dewi. Roy pun segera menyelesaikan tugas-tugasnya setelah dia melirik jam dinding yang berada di sebelah kiri dari meja kerjanya. Dia ingin segera meninggalkan kantor. Karena sejam lagi dia ada janji untuk bertemu dengan Dewi. Setelah kemarin dia membalas pesan dari Dewi dan sepakat untuk bertemu hari ini setelah Roy pulang kerja. Setelah semua pekerjaan dan tugas-tugasnya selesai, dia mohon ijin kepada atasannya untuk pulang lebih awal. Meski dengan sedikit berargumentasi dengan atasnnya namun akhirnya dia mendapatkan juga ijin untuk meninggalkan kantor lebih awal dari biasanya.

Setengah jam kemudian dia sudah berada di tempat di mana dia membuat janji dengan Dewi. Tepatnya di depan sebuah mall yang tak begitu jauh dari tempat kerja Roy. Dan ternyata Dewi telah lebih dulu sampai dan menunggunya.

“Nunggu lama ya?” Pertanyaan Roy membuka pembicaraannya dengan Dewi.

“Ya…, lumayan. Tak kurang dari setengah jam yang lalu.” Jawaban Dewi terasa datar sambil menutup pintu mobil. Dan secara serta merta mobil pun meluncur.

“Untung ya, rambutmu tidak ubanan karena menungguku…?” Perkataan Roy menjadikan wajah Dewi memerah karena malu. Dia merasa kalo dirinya yang tidak sabar untuk bertemu dengan Roy.

Memang Roy termasuk orang yang suka dengan guyonan-guyonan yang membikin orang lain merasa terpojokkan. Sambil Roy terus mengemudikan mobilnya, mereka berdua berbincang tentang apa saja. Termasuk tentang pengalaman mereka selama berpisah. Dan tanpa terasa mobil yang mereka kendarai telah memasuki area parkir dari sebuah rumah makan yang cukup asri.

Setelah memarkir mobil mereka berdua menyusuri jalan yang dibuat hanya berukuran kurang dari dua meter di antara kolam-kolam ikan. Karena rumah makan ini memberikan fasilitas kepada pengunjungnya untuk memancing sendiri ikan yang akan dinikmatinya. Suasana sejuk juga sangat terasa karena berada di wilayah lereng pegunungan dengan hamparan pemandangan berupa bukit-bukit yang menghiasi sejauh mata memandang. Akhirnya Roy mengajak Dewi untuk mengambil tempat duduk yang agak jauh dari perhatian orang. Bangunan menyerupai rumah panggung dari bambu dengan atap berupa ilalang kering yang ditata rapi memberikan kesan alami. Pemandangan di hadapan mereka terbentang hamparan lereng perkebunan dan persawahan yang langsung bertemu dengan cakrawala senja.

”Ini adalah salah satu tempat favoritku.” Roy memulai pembicaraan setelah mereka memesan makanan dan minuman dari menu yang ditawarkan oleh pelayan. Basa-basi Roy akhirnya membuat Dewi mulai bicara dengan permasalahannya. Dengan bahasa yang sedikit berbeda Dia mengulangi apa yang telah disampaikan kepada Roy melalui SMS kemarin. Namun semuanya dibiarkan Roy hingga Dia terus menyampaikan alasan-alasan kenapa dia ingin kembali kepadanya. Meski mereka sadar bagaimana posisi masing-masing. Dewi sudah berkeluarga, Roy tau itu dan tak ingin merusak kehidupan Dewi bersama suaminya.

Roy cukup mengerti dengan keadaan Dewi yang harus menjalani hidup dengan seseorang yang tak dicintainya. Roy mencoba memahami bagaimana beratnya berkeluarga dengan suami yang tak bertanggung jawab. Bahkan seperti cerita Dewi suaminya sudah tak sayang lagi denganya. Karena dia sekarang jarang pulang kerumah, dengan berbagai alasan rapat, pertemuan dengan klien dan sebagainya.

Roy masih belum memberikan jawaban atas permintaan Dewi. Yang jelas Roy tak mau menggangu keharmonisan keluarga orang lain. Tapi dia juga tak kuasa untuk menolak permintaan itu. Karena dia tak ingin Dewi menderita dalam menjalani kehidupan rumah tangganya. Itu semua karena Roy begitu sayangnya dengan Dewi. Ya karena Dewi adalah mantan kekasihnya yang pernah menjalani kasih sayang selama kuliah dulu.

”Kenapa tak kau usahakan untuk bicara dengan suamimu dulu. Atau dengan keluargamu?” Roy memberikan saran kepada Dewi.

”Percuma, karena ayah pasti tak akan memberikan solusi yang baik untuk ku. Karena buat dia yang penting bisnisnya bisa terus berjalan. Sedangkan suamiku sudah tak pernah lagi mau bicara denganku selain memarahiku.” Dewi memberikan jawaban dengan kepesimisan yang terlalu tinggi.

Roy beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiri pagar yang ada di tepi dari rumah panggung. Dia menatap ke depan. Hamparan lembah dan perkebunan yang bertemu dengan cakrawala senja menjadikan suasana semakin hangat. Roy terus berada dalam diamnya. Tak sepatah katapun dia ucapkan.

Secara hampir bersamaan mereka kembali berbicara. Namun sesaat sebelum Dewi mengeluarkan suaranya, Roy lebih dulu memberikan sebuah pertanyaan. ”Taukah kamu kenapa semenjak kita berpisah sampai sekarang aku masih bertahan tanpa cinta yang lain?” pertanyaan Roy membuat Dewi tercakat dan tak mampu mengeluarkan apa yang ingin dikatakannya. Dewi hanya diam, sambil terus memperhatikan Roy dalam diamnya.

Sambil membalikkan badan Roy masih diam. Kemudian dia melanjutkan ucapannya. ”Disinilah aku menemukan kembali cinta. Cinta yang mungkin tak ada duanya. Lebih dari sekedar cinta di antara dua insan manusia.” dalam diam Dewi menyimpan pertanyaan atas apa yang dikatakan Roy. Sesekali angin pegunungan yang sejuk membelai tubuh mereka berdua. Bahkan ketika hari semakin senja.

”Aku sendiri tak tau kenapa aku jadi begitu mencintai senja.” Roy kembali duduk di mana Dewi masih kelihatan asik dengan minumannya. ”Sebenarnya aku kecewa dengan keputusan ayahmu yang telah memutuskan cinta yang dulu kita jalani. Berhari-hari aku depresi dengan semua itu. Namun setelah aku diajak salah seorang teman untuk makan di sini, aku malah menjadi begitu suka dengan tempat ini. Aku merasa ada cinta yang begitu indah dengan senja ini. Seolah dia tak akan pernah berhenti mencintai siapa saja yang menikmatinya. Ya, senja yang indah, senja yang sahdu, senja yang begitu menawan hati. Juga senja selalu kurindukan.” Roy bicara panjang lebar tentang apa yang dirasakannya selama ini. Ternyata dia telah menemukan satu yang bisa menenangkan hatinya, meski sebenarnya dia juga masih mencintai Dewi.

”Wi, aku tau bahwa aku masih mencintaimu. Karena perasaanku mengatakan hal itu. Selain itu aku juga merasa kalau kamu juga masih mencintaiku. Namun apakah mungkin kita akan kembali merajut mimpi yang hanya tertinggal bayangnya saja. Bagiku itu terlalu sulit Dewi, sulit sekali.” Roy memberikan penjelasan yang tak pernah Dewi perkirakan. Di luar dugaan Dewi, Roy malah menggenggam kedua belah tangan Dewi. Hal ini tak lain adalah untuk meyakinkan Dewi bahwa Dia juga masih mencintainya. Namun karena keadaanlah yang memisahkan cinta mereka.

”Wi, meski aku masih sangat mencintaimu, aku tak bisa untuk kembali bersamamu. Aku harus menghargai keputasan ayahmu, juga sekarang aku harus menhargai suamimu. Kamu juga harus melakukan hal itu. Kamu harus menghargai mereka.” Nasihat Roy meluncur begitu saja seperti kepada sahabat baiknya saja. Ia telah menganggap Dewi sebagai sahabatnya. Sedangkan Dewi masih tetap dengan kebimbangan dan diam seribu bahasa. Dia tak tau harus berkata apa terhadap Roy, karena dia berharap Roy akan menyambut keinginannya dengan antusias.

”Wi, hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita segera pulang. Jangan sampai kamu kemalaman sampai di rumah. Sehingga suamimu akan menanyakan hal yang macam-macam kepadamu nanti. Ayolah..., cobalah kau cintai suamimu dengan sebaik-baiknya. Aku yakin kau akan mampu melakukannya dan pasti kau akan bahagia karenanya.” Kemudian Roy segera beranjak dari tempat duduknya dan diikuti Dewi. Mereka meninggalkan tempat itu dengan diiringi suasana senja yang sangat sahdu, dengan guratan mega berwarna jingga di sebagian langit utara. Sebuah senja yang memang pantas untuk selalu dirindukan.

Kudus, 20 Maret 2008